Kebanyakan dari kita tidak kehilangan salat karena sebuah keputusan besar. Kita kehilangannya karena keputusan kecil: sekilas memeriksa pesan saat azan mulai berkumandang, yang berubah menjadi sebuah video, lalu menjadi sebuah utas, sampai waktu Asar hampir habis. Allah memberi kita salat sebagai titik tetap dalam sehari. Ponsel sangat pandai membuat hari terasa seolah tidak punya titik tetap sama sekali.
Ini bukan tulisan yang menentang ponsel. Ponsel membawa Al-Qur'an, arah kiblat, dan suara orang-orang yang kita cintai. Tulisan ini melihat apa yang diajarkan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih tentang waktu dan perhatian, lalu mengubah ajaran itu menjadi kebiasaan kecil untuk sebelum, selama, dan setelah setiap salat. Semua ini tidak membutuhkan aplikasi khusus, dan tidak menuntut Anda untuk sempurna.
Sumpah demi waktu
Salah satu surah terpendek dalam Al-Qur'an membahas persis hal ini. Surah Al-'Asr hanya tiga ayat, dan dibuka dengan Allah bersumpah demi waktu itu sendiri:
وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Demi waktu, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Al-Qur'an 103:1–3
Kata untuk kerugian, khusr, adalah istilah pedagang untuk modal yang menyusut. Jam-jam kita terpakai, entah kita memilih untuk memakainya atau tidak. Jalan keluar dari kerugian itu adalah menanamkannya pada iman, amal saleh, dan saling membantu untuk berpegang pada kebenaran dan kesabaran.
Setiap aplikasi di ponsel Anda juga berbisnis waktu; para pembuatnya mengukur keberhasilan dalam menit perhatian Anda. Surah Al-'Asr mengajukan pertanyaan sebaliknya: ketika jam-jam Anda dihitung, ditukar dengan apa semua itu?
Dua nikmat yang sering membuat kita rugi
Nabi ﷺ menyebut dua hal yang paling sering hilang dari manusia tanpa disadari: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6412). Dalam bahasa Arab, kata kuncinya adalah مَغْبُونٌ (maghbūn), istilah pasar untuk orang yang menjual sesuatu yang berharga dengan harga jauh di bawah nilainya.
Waktu luang adalah persis apa yang diisi oleh ponsel, bukan dalam satu bongkahan besar, melainkan dalam seratus bongkahan kecil: menunggu air mendidih, semenit sebelum rapat. Setiap celah terasa terlalu kecil untuk berarti, itulah sebabnya begitu mudah diberikan begitu saja. Padahal salat lima waktu hidup di celah-celah itu. Zuhur sering kali hanyalah jeda sepuluh menit di tengah hari kerja. Jika setiap celah kecil sudah terpakai, salat tidak punya tempat lagi.
Ini tidak berarti setiap menit senggang harus menjadi ibadah. Kerugian diam-diam yang perlu diwaspadai adalah menit yang Anda habiskan tanpa sadar, tepat pada saat waktu salat tiba.
Mengapa “tepat waktu” itu penting
Abdullah bin Mas'ud bertanya kepada Nabi ﷺ amal apa yang paling dicintai Allah. Beliau menjawab: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا, “Salat pada waktunya.” Kemudian berbakti kepada orang tua, lalu berjuang di jalan Allah (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 527, Ṣaḥīḥ Muslim 85). Jawaban pertamanya bukan sekadar “salat”, melainkan salat yang dijaga pada waktunya.
Al-Qur'an menyampaikan hal yang sama: “Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang beriman” (Al-Qur'an 4:103). Salat sudah tertanam dalam jam harian, yang merupakan rahmat sekaligus kewajiban: Anda tidak pernah perlu memutuskan apakah akan berhenti hari ini. Matahari sudah memutuskannya, lima kali.
Aisyah menggambarkan bagaimana Nabi ﷺ menjalani hal ini di rumah. Beliau sibuk membantu keluarganya, dan “apabila waktu salat tiba, beliau keluar untuk salat” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 676). Beliau sibuk dan hadir sepenuhnya bersama keluarganya, dan ketika waktunya tiba, beliau meninggalkannya. Itulah teladannya: kehidupan yang penuh dan terlibat, dengan lima batas yang tegas di dalamnya.
Meninggalkan jual beli saat panggilan datang
Surah Al-Jumu'ah memberikan gambaran paling jelas tentang makna “meninggalkannya”:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Apabila salat telah dilaksanakan, bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kalian beruntung.”
Al-Qur'an 62:9–10
Ayat-ayat ini berbicara tentang salat Jumat, tetapi polanya menjadi pelajaran yang berguna untuk setiap salat. Pertama, letakkan apa yang ada di tangan Anda, meskipun itu halal: jual beli tidak berdosa, ia hanya menunggu. Kedua, setelah salat selesai, keluarlah kembali dan carilah kebaikan di dunia, tanpa rasa bersalah. Saat ini, “jual beli” di tangan kita biasanya berupa linimasa, kotak masuk, atau grup obrolan. Ayat-ayat itu tidak meminta Anda membuang ponsel. Ayat-ayat itu meminta Anda meletakkannya saat dipanggil, dan mengambilnya kembali sesudahnya dengan Allah tetap dalam ingatan.
Ponsel bukanlah musuh. Ponsel hanya tidak seharusnya menjawab panggilan azan lebih dulu daripada Anda.
Sebelum salat: atur ponsel agar membantu
Tekad paling lemah tepat pada saat Anda membutuhkannya, jadi buatlah keputusan Anda lebih awal. Beberapa pengaturan, yang dipilih sekali saja, melakukan banyak pekerjaan secara diam-diam:
- Pertahankan satu peringatan yang penting. Matikan suara dan banner untuk aplikasi yang tidak memerlukannya, agar pengingat waktu salat bukan sekadar satu getaran di antara empat puluh.
- Sebutkan dua atau tiga aplikasi “pencuri” Anda. Kebanyakan orang kehilangan salat karena beberapa aplikasi saja, bukan karena seluruh ponsel. Anda hanya bisa berjaga dari apa yang bisa Anda sebutkan.
- Gunakan pembatas yang sudah ada di ponsel Anda. Durasi Layar (Screen Time) di iPhone dan Kesehatan Digital (Digital Wellbeing) di Android dapat membatasi aplikasi atau menjadwalkan waktu tenang. Memindahkan aplikasi-aplikasi itu dari layar utama juga membantu: membukanya menjadi sebuah pilihan, bukan refleks.
- Tentukan langkah pertama Anda. Saat pengingat berbunyi, apa hal yang langsung Anda lakukan berikutnya? “Berdiri dan pergi berwudu” jauh lebih berhasil daripada “selesaikan ini dulu, baru salat”, karena “ini” jarang benar-benar selesai.
Panduan kami Cara menjaga salat lima waktu, dan kembali saat sempat tergelincir membahas lebih jauh cara menautkan setiap salat pada momen yang sudah ada dalam hari Anda.
Selama salat: jauh dari mata, jauh dari jangkauan
Al-Qur'an menggambarkan orang-orang beriman yang beruntung sebagai “orang-orang yang khusyuk dalam salatnya” (Al-Qur'an 23:1–2). Kehadiran hati itu, khusyuk, lebih mudah diraih ketika tidak ada apa pun di dekat Anda yang bersaing merebut pandangan Anda (selengkapnya di Khusyuk dalam salat).
Nabi ﷺ menganggap serius hal ini. Beliau pernah salat dengan pakaian bertepi motif, sempat melirik motifnya saat salat, lalu sesudahnya bersabda: “Bawalah pakaianku ini kepada Abu Jahm dan bawakan aku pakaiannya yang polos, karena pakaian ini tadi telah mengganggu salatku” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 373, Ṣaḥīḥ Muslim 556). Jika motif pada kain saja layak disingkirkan, layar yang menyala menampilkan nama dan pesan setidaknya pantas mendapat perhatian yang sama.
Ketika Aisyah bertanya kepada beliau tentang menoleh ke sana kemari saat salat, beliau bersabda: “Itu adalah curian yang dicuri setan dari salat seseorang” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 751). Ponsel yang tergeletak menghadap ke atas di samping sajadah mengundang lirikan seperti itu. Dua kebiasaan ini membantu:
- Aktifkan mode Jangan Ganggu (Do Not Disturb) atau mode senyap sebelum Anda mengucapkan takbiratul ihram (“Allah Mahabesar”).
- Letakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah, di saku atau di ruangan lain, bukan di samping tempat sujud.
Setelah salat: jeda lima menit
Tepat setelah salam terakhir, kebanyakan dari kita langsung meraih ponsel. Al-Qur'an meminta hal lain terlebih dahulu: “Apabila kalian telah menyelesaikan salat, ingatlah Allah ketika berdiri, ketika duduk, dan ketika berbaring” (Al-Qur'an 4:103).
Beri diri Anda jeda singkat sebelum layar kembali menyala: zikir setelah salat, beberapa tasbih, satu doa dengan kata-kata Anda sendiri. Lima menit sudah cukup. Panduan kami Bacaan setelah salat menguraikan zikir yang diajarkan Nabi ﷺ untuk momen ini, dan Kartu Petunjuk memuat doa-doa singkat dan makna 99 Nama Allah, satu kartu demi satu kartu.
Lalu, sebagaimana disebutkan Surah Al-Jumu'ah, keluarlah kembali dan carilah kebaikan: balas pesan itu, selesaikan pekerjaan itu. Tujuannya tidak pernah untuk takut pada ponsel, melainkan membiarkan salat yang menentukan irama hari, bukan notifikasi.
Tips: Jadikan jeda itu nyata secara fisik. Biarkan ponsel di tempatnya selama salat dan ambillah hanya setelah zikir Anda selesai.
Alat yang membantu tanpa menjadi tujuan
Pemblokiran aplikasi bisa membantu dengan memberi jeda antara dorongan dan aplikasi, dan jeda itu sering kali sudah cukup bagi niat. Itulah gagasan di balik Perisai di Awwab, aplikasi salat gratis yang kami buat: pada setiap waktu salat, aplikasi-aplikasi yang Anda pilih menunggu sampai Anda menandai salat sebagai sudah dikerjakan, dan membuka salah satunya akan menampilkan sebuah ayat dan jalan menuju salat, bukan linimasa.
Namun, alat hanyalah perancah, bukan bangunannya. Sebuah pemblokir bisa mencegah Anda membuka aplikasi; ia tidak bisa memberi Anda alasan untuk berdiri di atas sajadah. Alasan itu datang dari mengenal kepada siapa Anda salat dan mengapa, jadi padukan alat apa pun dengan sesuatu yang memberi makan hati, seperti kisah para nabi di Pusat Ilmu atau satu ronde game Pengetahuan. Dan bersikaplah lembut kepada diri sendiri. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa “amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6464, Ṣaḥīḥ Muslim 783). Satu salat yang terlindungi dari ponsel hari ini lebih berharga daripada rencana besar yang Anda tinggalkan sebelum hari Jumat.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bolehkah saya menyenyapkan ponsel jika berdering saat salat?
Banyak ulama berpendapat bahwa gerakan kecil yang diperlukan, seperti menekan satu tombol untuk menyenyapkan ponsel yang berdering, tidak membatalkan salat, sedangkan banyak gerakan berturut-turut yang tidak perlu membatalkannya. Mazhab-mazhab fikih mendefinisikan “banyak” dengan cara yang berbeda, sehingga rinciannya berbeda-beda. Cara paling sederhana adalah menyenyapkan ponsel sebelum takbiratul ihram, dan bertanya kepada ulama yang Anda percayai jika keadaan Anda berbeda.
Bolehkah saya membaca Al-Qur'an dari ponsel saat salat?
Para ulama berbeda pendapat. Mazhab Hanafi umumnya berpendapat bahwa membaca dari teks tertulis selama salat membatalkannya. Banyak ulama dari mazhab-mazhab lain membolehkannya, terutama dalam salat malam yang sunah, dan sebagian dari mereka memandangnya makruh dalam salat wajib. Jika Anda mengikuti pendapat yang membolehkannya, aktifkan mode Jangan Ganggu terlebih dahulu agar notifikasi tidak menutupi halaman, dan tanyakan kepada ulama yang Anda percayai untuk keadaan Anda.
Apakah salat “tepat waktu” berarti saya harus salat begitu azan berkumandang?
Setiap salat memiliki rentang waktu, dan salat yang dikerjakan di bagian mana pun dalam rentang itu termasuk tepat waktu. Banyak ulama memandang awal waktu lebih utama secara umum, dengan pengecualian yang sudah dikenal, seperti sedikit menunda Zuhur saat cuaca sangat panas (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 533). Yang diperingatkan para ulama adalah menunda hingga ujung akhir waktu, atau melewatinya, tanpa alasan. Untuk melihat bagaimana rentang waktu ini dihitung, bacalah Cara jadwal salat dihitung.
Apa yang harus saya lakukan jika saya sudah terlanjur melewatkan salat karena ponsel?
Jangan biarkan satu kali tergelincir menjadi alasan untuk berhenti. Kembalilah kepada Allah, kerjakan salat berikutnya pada waktunya, dan ganti salat yang terlewat. Empat mazhab Sunni berpendapat bahwa salat wajib yang terlewat harus diganti, bahkan yang terlewat karena kelalaian; sebagian ulama berpendapat bahwa salat yang sengaja ditinggalkan dijawab dengan tobat dan memperbanyak salat sunah sebagai gantinya. Panduan kami Mengganti salat yang terlewat memaparkan pendapat-pendapat utama dan cara memulainya.
Sumber
Rujukan Al-Qur'an membuka ayatnya di quran.com dan rujukan hadis membuka riwayatnya di sunnah.com, tempat Anda dapat membaca teks lengkapnya. Riwayat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim diterima sebagai sahih oleh para ulama hadis; untuk kitab-kitab lain, penilaiannya dicantumkan di samping rujukan.
- Al-Qur'an 103:1–3: Surah Al-'Asr.
- Al-Qur'an 4:103: salat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, dan zikir sesudahnya.
- Al-Qur'an 62:9–10: meninggalkan jual beli saat seruan salat Jumat, lalu mencari karunia Allah.
- Al-Qur'an 23:1–2: khusyuk dalam salat.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6412: dua nikmat: kesehatan dan waktu luang.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 527 dan Ṣaḥīḥ Muslim 85: salat pada waktunya, amal yang paling dicintai Allah.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 676: membantu keluarganya, lalu keluar untuk salat.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 373 dan Ṣaḥīḥ Muslim 556: pakaian bermotif yang mengganggu salat beliau.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 751: menoleh ke sana kemari dalam salat.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 6464 dan Ṣaḥīḥ Muslim 783: amal yang paling konsisten, meskipun sedikit.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 533: menunda Zuhur saat cuaca sangat panas.